image-logo
Budaya modern selalu menuntut untuk produktif. namun adakalanya berhenti adalah bagian penting dari proses—agar bisa maju lebih jauh.
post
/post/berhenti-untuk-maju/
Berhenti Sejenak Untuk Maju Lebih Jauh

Berhenti Sejenak Untuk Maju Lebih Jauh

hero-image-berhenti-untuk-maju

Foto dari Kai Pilger (Unsplash)

banyak yang menyarankan untuk terus maju -jangan menyerah, jangan berhenti, kata mereka. Namun, manusia itu tidak sempurna; Ia pasti merasakan lelah. Memaksakan diri seolah kita tidak pernah lelah -entah karena pandangan orang, atau malu, atau takut menghadapi diri sendiri ketika berhenti. Sekarang mungkin belum terlihat, tapi lama-lama itu akan menguras diri kita sendiri.

Kita menipu diri dengan kata-kata kita mampu, kita bisa, namun memaksakan diri kita dengan mode autopilot, tanpa perencanaan. Padahal sudah jelas Hanya Allah yang tidak pernah lelah, dan kita manusia pasti lelah dan butuh istirahat.

Bukankah melelahkan hidup seperti itu?

seperti hidup yang tidak menentu seperti ombak; tidak apa-apa jika sekali-kali ingin berhenti dan mengambil jeda. Bahkan, terkadang ini harus. Kita perlu berhenti dan mengambil jeda sebelum meneruskan perjalanan yang bernama hidup ini.

untuk mencari hal-hal yang hilang,
merenungi takdir Yang Maha Penyayang,
merefleksi perjalanan kehidupan,
atau sekedar mengistirahatkan badan.

Ketika kita berjalan dengan kecepatan penuh, fokus kita hanya ke depan saja; tanpa melihat sekitar kita. Hanya ketika kita berhenti atau bahkan memperlambat langkah baru kita bisa melihat sekitar dengan pandangan yang lebih luas. Membuat rencana pun baru bisa dilakukan ketika kita duduk diam dan merenung kan?

Bahkan dalam agama pun, kita dilarang untuk berlebihan dan menyusahkan diri. Dalam salahsatu hadist riwayat Imam Bukhari dari Anas Radhiallahu 'anhu:

“Ada tiga orang mendatangi rumah istri-istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk bertanya tentang ibadah Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Lalu setelah mereka diberitahukan (tentang ibadah Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam ), mereka menganggap ibadah Beliau itu sedikit sekali. Mereka berkata, “Kita ini tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ! Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah diberikan ampunan atas semua dosa-dosanya baik yang telah lewat maupun yang akan datang.” Salah seorang dari mereka mengatakan, “Adapun saya, maka saya akan shalat malam selama-lamanya.” Lalu orang yang lainnya menimpali, “Adapun saya, maka sungguh saya akan puasa terus menerus tanpa berbuka.” Kemudian yang lainnya lagi berkata, “Sedangkan saya akan menjauhi wanita, saya tidak akan menikah selamanya.” Kemudian, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatangi mereka, seraya bersabda, “Benarkah kalian yang telah berkata begini dan begitu? Demi Allâh! Sesungguhnya aku adalah orang yang paling takut kepada Allâh dan paling taqwa kepada-Nya di antara kalian. Akan tetapi aku berpuasa dan aku juga berbuka (tidak puasa), aku shalat (malam) dan aku juga tidur, dan aku juga menikahi wanita. Maka, barangsiapa yang tidak menyukai sunnahku, maka ia tidak termasuk golonganku.”

Dengan hal tersebut, hilangkan rasa bersalah dalam diri karena harus berhenti. Budaya modern memang melihat bekerja sebagai proses, dan diam sebagai kemalasan. Padahal, diam dan melambat juga adalah bagian dari proses. Memang hasilnya tidak bisa terlihat langsung secara kuantitas, tetapi ia dapat merestorasi jiwa.

Namun perlu dipahami, agar jangan sampai memakai berhenti atau istirahat ini sebagai alasan untuk bermalas-malasan. Istirahat yang benar adalah yang mengembalikan energi dan memperjelas pandangan, untuk kemudian melanjutkan perjalanan. Namun jika hal tersebut malah membuat kita bermalas-malasan dan menunda pekerjaan dengan alasan 'belum mood' atau 'self-healing', itu lain cerita. Istirahat yang benar adalah yang mengembalikan energi kita untuk kembali maju; bukan pelarian yang menjadi alasan langkah kita berhenti.

Hanya kita yang tahu: apakah ini istirahat atau pelarian?

Maka semoga setelah istirahat ini, kita dapat kembali dengan lebih fresh.

Penulis: Zira Fariza