Foto dari John Towner (Unsplash)
Sebagai Makhluk Sosial, kita akan memiliki banyak hubungan dengan orang lain. Umumnya, disebabkan kesamaan value, jarak, ataupun tujuan. Seperti saat di sekolah, kita belajar bareng. Atau saat kuliah, bekerja di kantor, dan lain sebagainya. Kebersamaan dan tujuan bersama menjadi penghubung utama.
Pergaulan Manusia pada Umumnya
Hubungan-hubungan tersebut juga memiliki kedalaman yang berbeda-beda. Terkadang ada kan, teman yang kita kenal biasa saja, sekadar say hi. ada yang akrab namun interaksinya bekisar small talk dan urusan-urusan. dan terakhir, yang kita bisa berbicara dengan topik apapun—bahkan urusan pribadi kita. Begitulah, tiap hubungan kedalamannya berbeda-beda dan dinamis—Banyak yang dangkal, beberapa dalam, dan yang ada di antara keduanya.
Semua jenis ikatan tersebut—dangkal, dalam, teman sehobi, sepekerjaan—memiliki maknanya masing-masing.
Mungkin sebagai pemutus kesepian,
atau support dalam keperluan,
atau sekadar kawan hiburan.
Menjalani Hubungan dan Interaksi
Kita bisa punya banyak teman dan kenalan, dan menikmati hubungan tersebut—tentu saja dengan batasan yang diizinkan dalam Islam. Nikmati setiap momen, karena banyak hubungan yang sebenarnya disebabkan waktu dan jarak. Saat dalam masa-masa tersebut, nikmati tawa dan kesenangan yang kau rasakan—walau mungkin suatu saat akan berpisah, tetapi itu akan menjadi kenangan tersendiri.
Selama bergaul dengan manusia—dan bahkan seluruh makhluk. Allah menekankan pentingnya berlaku baik. Perlakukan setiap orang sesuai tempatnya, dan perlakukan dengan baik, adil, dan sopan.
Jika dengan orang berkedudukan tinggi atau lebih tua, hormati.
Jika dengan teman sebaya, saudara, anak kecil, sayangi.
Terkadang, ada orang yang karena merasa dirinya lebih baik—sedang teman yang dilihatnya tidak baik—akhirnya bersikap dingin dan bermuka masam ke orang yang tidak sesuai dengan standarnya. Padahal, Islam yang diturunkan Allah melalui Rasulullah ﷺ tidak pernah mengajarkan kita untuk bersikap eksklusif hanya ke golongan-golongan tertentu. Apalagi jika patokannya adalah pakaian yang menyelimuti tubuh.
Baiklah, katakanlah misal mereka memang sikapnya tidak baik, atau punya kekurangan. Namun, bukan berarti kita juga harus berbalik tidak baik atau bahkan meremehkan. Coba kita contoh Rasulullah ﷺ; Saat Beliau berdakwah ke Thaif, beliau malah disakiti dan ditolak. Malaikat penjaga gunung menawarkan untuk membalas, namun Rasulullah ﷺ malah mendo'akan kebaikan untuk mereka, agar keturunannya menjadi beriman.
Kita mestinya patut mencontoh kebaikan dan ketulusan beliau ini, dengan tetap berlaku baik dan tulus ke semua orang. Ini Rasulullah dibuat sedih sedemikian rupa oleh penduduk Thaif masih mendo'akan mereka. Lantas kita, mungkin hanya tidak suka karena ada sikap yang memang kita tidak suka, tapi bahkan mungkin tidak menyakiti hati kita.
Tetap berlaku baik. Siapa tahu, kebaikan yang kita berikan tersebut menjadi perantara hidayah untuk mereka, bukan?
Manusia tidak ada yang sempurna, baik diri kita, maupun orang lain. Bukan menjadi alasan kita meremehkan orang lain karena merasa kita lebih tinggi, karena seperti kita yang punya hal positif, mereka pun juga pasti memiliki hal positif. Begitupula sebaliknya—Mereka punya kekurangan, dan kita pun juga. Tidak ada manusia yang sempurna, tetap baik dan sabar.
Dan itu untuk pergaulan dengan manusia pada umumnya. Lantas, bagaimana dengan sahabat baik? Kalau ini harus selektif.
Memilih Sahabat Baik
Tentang pentingnya memilih sahabat baik, Ustadz Firanda sampaikan di salah-satu ceramahnya, Kalau misal pertemanan yang baik itu—suka tidak suka, harus pilih-pilih. Kalau hanya sekadar kenal atau rekan, tidak apa-apa banyak. Namun sahabat yang dekat dengan kita; teman bercerita, ngobrol, jalan, itu harus pilih. Karena akan ada sinkronasi antara kita dengan teman dekat kita; entah kita yang mengikuti teman kita, atau teman kita yang mengikuti kita.
Yang artinya, bisa jadi kita menjadi seperti sahabat kita yang bersifat baik,
atau kita yang mengikuti sahabat kita yang buruk.
Tentu kita tidak mau bukan, kalau kita bersahabat dengan orang yang membuat kita menjadi berakhlak buruk? Sungguh, manusia sangat mudah dipengaruhi teman dan lingkungannya.
Sebagai manusia, tujuan hidup kita yang sebenarnya adalah akhirat. Ketika kita meninggal, kita akan sendirian di alam kubur; hanya amalan-amalan kita di dunia yang akan menemani kita. Maka sebaiknya dekatkan diri ke teman-teman yang memang membuat kita makin dekat ke Allah dan memperbanyak ketaatan kepada-Nya.
Dan sahabat terbaik, adalah yang saling tolong-menolong dalam kebaikan, yang ketika bersamanya menambah keimanan kita, mengingatkan kita ketika salah, dan menasihati kita untuk melakukan kebaikan; semata-mata untuk tujuan abadi.
Umar Bin Khaththab Radhiallahu 'anhu berkata,
ما أعطي العبد بعد الإسلام نعمة خيراً من أخ صالح فإذا وجد أحدكم وداً من أخيه فليتمسك به
“Tidaklah seseorang diberikan kenikmatan yang lebih baik setelah Islam selain daripada kenikmatan memiliki saudara/sahabat yang saleh (baik). Apabila engkau dapati salah seorang sahabat yang baik maka pegang lah erat-erat.”
Sahabat jenis tersebut, yang InsyaAllah akan tetap terhubung. Mereka yang tetap mengingat dan mendoakan kita walau raga berpisah, atau bahkan ketika kita sudah menyatu dengan tanah. Dan hubungan yang tetap terjaga, karena Allah hubungkan hati keduanya—dan aku berdo'a agar Allah juga mempertemukan kita dengan orang-orang seperti ini serta menjaga hubungan tersebut.
Lantas bagaimana kalau sahabatku nggak sholih? Tetap bersabar, berlaku baik, dan menasihati mereka. Tiap orang punya potensi keimanan dan kebaikan; dan Allah-lah yang Maha Membolak-balikkan hati. Menasihati itu bentuk sayang—tentu kita ingin sahabat baik kita bisa jadi lebih baik kan?
Dan kasih sayang sejati itu adalah kasih sayang yang tulus, karena mengharapkan kebaikan orang yang kita cintai tersebut; seperti kita mengharapkan kebaikan pada diri kita sendiri.
Seperti pada hadist di bawah:
Dari Abu Hamzah Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, pembantu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Salah seorang di antara kalian tidaklah beriman (dengan iman sempurna) sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Kemudian juga, kita perlu ingat kalau Manusia tidaklah ada yang sempurna, baik diri kita, bahkan sahabat baik kita sekalipun. Karena itu, kita harus bersabar juga dengan mereka; Mereka memiliki masalah, kekurangan, tetapi jika memang mereka adalah sahabat yang baik dan kita ingin hubungan tersebut terjaga hingga surga kelak, maka bersabarlah dengan mereka.
Namun, jika dinasihati tidak mau—bahkan memberontak dan jadi kasar ke kita, memaksa perbuatan mereka yang tidak baik, atau bahkan kita jadi tertular, maka mungkin sudah saatnya kita menambah jarak—Bisa dengan mengurangi intensitas komunikasi dan interaksi. Jika tidak bisa, tinggalkan; Tinggalkan karena Allah, karena ingin menjaga agama kita. Pasti sedih dan sakit hati sih jujur, Para sahabat Rasulullah pun juga merasakan kesedihan mendalam juga saat meninggalkan banyak hal untuk berhijrah. Namun, Semoga kita ingat, kalau Allah pasti akan mengganti dengan yang lebih baik kalau kita meninggalkan sesuatu karena-Nya.
Hanya ingin realistis terhadap risiko yang mungkin dihadapi tersebut. Walau begitu, tetap prioritaskan agama. Karena banyak ayat-ayat di Al-Qur'an yang menceritakan penyesalan banyak orang pada hari pembalasan karena memilih sahabat dekat yang salah.
Antara Berlaku Baik dan Berteman
Mungkin terdengar kontradiktif ya—berlaku baik ke semua manusia, dan memilih sahabat. Sebenarnya hal tersebut tidak bertolak belakang; kita bisa berlaku baik ke siapapun, tanpa menjadi dekat atau berteman akrab.
Pada dasarnya, kesenangan itu ada 2 jenis: instrinsik dan ekstrinsik. Kesenangan yang kusebut di atas—dan yang umum dijadikan patokan, adalah kesenangan ekstrinsik. Ini misalnya seperti tertawa bareng dan have fun. Makanya kesenangan bersama eksternal bukan indikator yang valid. Lagipula, jikalau misal kesenangan tersebut menjadi indikator, tidak akan ada pasangan dan pertemanan yg bisa tahan dalam jangka lama; karena kesenangan seperti itu sifatnya temporer.
Namun, untuk kesenangan instrinsik—yang dari dalam hati terasa nyaman dan tenang—tentu berbeda. Hanya sekadar ngobrol dan bareng sama mereka—walau hanya di kegiatan biasa—kita enjoy. sama kehadiran mereka aja, walau misal kita sibuk dengan urusan masing2, kita senang aja. yang rasanya kalau tidak ada mereka bakalan beda. Ini lebih kokoh dibandingkan hanya harus senang dari luar saja.
Untuk menutup tulisan kali ini, cukuplah perkataan Imam Syafi'i berikut menjadi pengingat:
إذا كان لك صديق يعينك على الطاعة فشد يديك به، فإن اتخاذ الصديق صعب ومفارقته سهل. . "Apabila engkau memiliki teman yang membantumu dalam melakukan ketaatan maka peganglah dia erat-erat dengan kedua tanganmu. Karena sungguh mencari teman itu sangatlah sulit. Namun berpisah dengannya sangatlah mudah." (Hilyatul Aulia 4/101) Sumber
Akhir kata, semoga kita bisa mendapatkan teman yang bersama-sama berjalan di atas ketakwaan dengannya.