image-logo
Merenungi soal kultur dan budaya dengan studi kasus sejarah Iran.
post
/post/kultur-budaya-akar-diri/
Kultur, Budaya, dan Pengaruhnya ke Akar Diri

Kultur, Budaya, dan Pengaruhnya ke Akar Diri

Waktu Membaca: 4 Menit

Jadi aku mendapat sebuah buku puisi dari teman; sebuah buku Puisi Persia (Iran). Konon katanya literatur dan puisi adalah karya sastra paling terkenal di Iran. Waktu baca pertama, awalnya aku kira ini puisi romansa. Banyak sekali istilah berulang yang berkaitan dengan romansa seperti cinta, kesayangan, dan anggur (alias memabukkan). Jujur beberapa kali bikin mikir terheran-heran sih.

Jadi, karena penasaran, aku coba pelajari soal ini: mulai dari strukturnya, kontennya, dan sejarahnya.

Makna Puisi

Pertama, aku coba-coba pelajari maksudnya. Konon puisi ini kan biasanya punya makna tersirat ya. Ternyata setelah dipelajari lanjut, banyak makna puisi ini yang sebenarnya bukan tentang romansa; itu cuma metafor untuk mengekspresikan cinta kepada Ilahi.

Dari sini mulai sedikit paham, kalau misal semua metafor yang dipakai Rumi disini lebih ke arah pengekspresian atas cinta dan keimanan. Kesayangan adalah Allah, dan anggur ini lebih ke arah... mabuk akan merasakan cinta ilahi, hingga membuat lupa diri? merasakan manisnya iman mungkin lebih tepat ya. Walau manisnya iman tidak sampai bikin lupa diri ya. Lebih ke arah berserah. Sungguh abstrak.

Tapi intinya, banyak puisi Rumi yang merupakan puisi islami, dan merupakan pengekspresian keimanan.

Asal Muasal Sejarah serta Pengaruh Islam

Setelah mempelajari soal latar belakang Rumi itu sendiri, ternyata Rumi ini beraliran sufi, yang mengutamakan tasawuf untuk pengekspresian tauhid. Sekarang mulai paham kenapa puisinya abstrak banget. Aku yang tidak pernah belajar tasawuf bingung menangkap maksudnya.

Dan ternyata, literatur klasik Iran itu dibagi ke 2 masa berbeda: sebelum islam dan sesudah islam. Puisi Rumi masuk masa sesudah islam, abad ke 13. Sejujurnya menarik, melihat sastra kuno yang ada di Iran dipengaruhi islam, dan menjadikan sebuah literatur yang unik dan khas.

Lalu aku coba telaah lebih lanjut soal sejarah Iran itu sendiri. Siapa sangka di masa keemasan islam, saat islam jaya-jayanya, banyak ulama-ulama dan penemu yang berasal dari Iran. Aku baru sadar kalau Imam Bukhari dan Muslim dua-duanya dari Iran. Tidak terbatas di Ulama, tapi juga peneliti di bidang sains seperti Matematika, saintis, dan astronomi. Dulu pernah belajar di SMA, tapi baru sadar kalau ternyata asalnya dari iran. Menarik.

Biasanya, banyaknya sejarah-sejarah keilmuan seperti ini diajarkan sejarahnya ke barat atau yunani, tapi banyak yang melupakan soal Masa Keemasan Islam. Sayang sekali sih ini.

Aku juga baru sadar akan pengaruh islam ke kebudayaan indonesia, saat wali Songo menyebar islam, selain melalui perdagangan juga dengan memakai unsur budaya, seperti dengan pertunjukan Wayang Kulit. Dan setelah ditelisik lebih jauh, Islam sudah mengakar di Indonesia bahkan sejak sebelum masa wali songo.

Jujur ini menarik. Walau ironisnya aku baru belajar lagi soal sejarah negara sendiri setelah belajar sejarah negara orang lain.

Kekentalan dan Pengaruh Budaya

Lalu entah apakah pengaruh dari Islam atau memang kekentalan budaya Iran itu sendiri, mereka masih memegang teguh budaya kekeluargaan dan keramahan. Walau misal sudah ada modernisasi, tetap saja masih kental budaya keramahannya.

Ini mungkin sama dengan Indonesia, Ditambah dengan budaya gotong royong yang kita punya. Makanya orang indonesia dibilang ramah dan baik, karena memang keramahannya sudah mendarah daging.

Mungkin, karena akar budaya yang lebih berbobot seperti literatur dan ilmu pengetahuan, orang Iran lebih kental konten diskusinya, namun di satu sisi lebih formal. Berbeda dengan orang Indonesia, dengan mengedepankan sastra hiburan, sehingga masyarakatnya lebih santai dan kasual.

Tapi kalau dipikir, Indonesia itu variatif banget ya. Budayanya masam-macam; kalau misal datang ke kota atau provinsi lain, akan kelihatan betapa variatifnya Indonesia. Dari jakarta datang ke bogor, atau bandung, jogja, bali, dan itu sudah seperti lokasi yang beda sendiri, dengan karya seni, peninggalan, bahasa, dan lain-lain. Memang indonesia itu kaya ya.

Dan ini belum makanan ya; Satu tempat punya variasi makanan yang berbeda-beda juga.

Perbandingan dengan Negara Barat

Asli keduanya lebih menarik, baik Indonesia maupun Iran, setelah mempelajari sejarahnya. Keduanya terasa kental dan berwarna, baik dari luar maupun dalamnya. Bahkan walau misal sudah ada modernisasi, akar budaya tersebut masih tertanam di kebiasaan masyarakat di kedua negara tersebut, walau misal banyak masyarakatnya yang tidak tahu soal latar budaya negaranya sendiri.

Dan itu lebih menarik, dibanding negara barat. Ini lebih terasa setelah tinggal di Australia sih. Mungkin karena rasanya datar saja, atau aku yang kurang belajar soal sejarahnya, tapi yang aku rasa isinya sama semua, dan terasa hampa walau indah. Either way, kalau dalamnya sih nggak ya, seperti yang aku tulis di artikel sebelumnya.

Tapi kalau misal bisa menebak sedikit, mungkin karena negara-negara Asia, seperti Indonesia dan Iran, sama-sama masih memegang kultur budaya dan masih ditinggali penduduk aslinya. Walau Australia maju, tetapi kemajuan tersebut bukan dari budaya maupun suku aslinya sendiri, melainkan dikembangkan oleh Inggris; karena inggris menyerang dan menduduki Australia, dan memonopoli perkembangan di sana. Akibatnya, kultur dan budaya aslinya tidak terlihat. Hanya lanskap dan budaya Inggris yang terlihat.


In the end, belajar soal budaya dan sejarah ini ternyata lebih menarik dari perkiraanku. Sesuatu yang tidak pernah aku pikirkan untuk lakukan saat sekolah :v.

Penulis: Zira Fariza

Blog ini tempat aku menuangkan isi pikiran yang bermacam-macam, mulai dari agama, hidup, atau curhatan kegiatan sehari-harinya. Kenal Lebih Dalam