Foto dari Carlos de Miguel (unsplash)
Sudah 10 tahun sejak pertama blog ini dibuat (dan sejujurnya lebih dari itu kalau menghitung blog-blog sebelumnya). Dalam masa 10 tahun ini, sudah banyak perubahan yang aku alami; terutama satu tahun terakhir ini.
Dan ini mungkin sudah waktunya untuk bikin motto blog baru.
Kalau motto sebelumnya lebih ke arah bersyukur (Hidup mungkin rumit, namun bahagia sederhana), motto kali ini lebih mencerminkan cara menjalani kehidupanku overall dengan lebih jujur, dan dengan tujuan yang lebih jelas ke depannya.
Motto barunya itu, "Niat Dulu, Jalanin Apa Adanya".
Awalnya sempat kepikiran dari salah satu tulisan untuk teman (pakai bahasa Inggris, awalnya "Living with Intention"), yang membahas tentang kehidupanku yang memang selalu berusaha untuk terarah segimanapun sulitnya. Kemudian sekalian juga ini habis audit konten blog karena memang mau lebih diseriusin dan difokusin ya, jadi agar terarah gitu, dan agar jadi pembeda ini blog dengan blog lain yang sejenis. Setelah review dan renungan, sepertinya memang ini cocok ya. Terutama sebagai cerminan kehidupan pribadi yang sudah mencapai fase baru (uhuk, Kepala Tiga, uhuk).
Kalau ditelaah, sebenarnya itu ada dua poin utama dalam satu motto: Niat dan hidup apa-adanya.
Tentang Niat
Tentu saja kita tidak bisa membuka tentang niat tanpa hadis ini:
إنَّمَا الأعمَال بالنِّيَّاتِ وإِنَّما لِكُلِّ امريءٍ ما نَوَى
"Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan..." (H.R. Bukhari Muslim, dari Umar bin Khaththab)
Saking pentingnya soal niat ini, hadis tersebut sampai dijadikan pembuka dalam Kitab Shahih Bukhari dan Hadis Arba'in An-Nawawi.
Niat ini bisa dibilang sebagai tujuan dan target ya kalau misal ditulis. Aku tulis "niat dulu" ya karena memang mestinya niat dulu sebelum melakukan sesuatu. Bukan harus diucapin sih... lebih ke arah menetapkan niat dan tujuan itu ke depannya mau diapakan.
Seperti blog ini; niat bikinnya kan agar bisa menjadi manfaat untuk yang baca, dan jadi amal jariyah untuk diri sendiri. Jadi seperti pegangan untuk nanti ke depannya mau dibawa ke mana ini blog, maupun hidupku pribadi.
Aku cuma mikir, kalau tidak diatur, mudah banget kita hidup itu ya cuma jalanin aja; cuma sekadar yang penting bisa survive dan ikutin arus aja bawa kita ke mana. Singkatnya seperti autopilot. Ini jujur kalau tidak ada niat atau tujuan, akan mudah sekali terombang-ambing ya pas jalanin; cuma kerjain tugas seadanya, atau dengan kesibukan kerjaan-keluarga-dll, ikutin apa yang viral, mudah terdistraksi dan tidak ada fokus pasti mau dibawa ke mana ini hidup. Apalagi di usia 30 tahun keatas itu mulai kerasa ya berkurangnya umur; banyak hal yang jika tidak hati-hati, serasa seperti buang-buang waktu. Aku merenungi banget tentang hal ini, karena aku tidak mau, kalau nanti 10-20 tahun ke depan, aku bingung sama diriku sendiri waktuku kebuang ke mana.
Dan niat ini juga masuk ke hal-hal yang terlihat sepele ya, seperti misal memikirkan alasan atau tujuan membeli sesuatu, atau mendengarkan dan menikmati sesuatu dengan fokus. Atau memikirkan apa hal yang penting untuk kita jalani, dan memilih hal-hal yang bisa kita tinggalkan demi niat tersebut. Sound simple tapi penerapannya butuh praktik.
Apalagi sebagai seorang muslim, tujuan hidup yang utama ya itu, ibadah kepada Allah. Seperti di Adz-Dzariyat ayat 56, "Kami tidak menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku". Beribadah, tidak menyekutukan-Nya dengan apapun juga, melaksanakan perintah-Nya, dan menjauhi larangan-Nya. Singkatnya menjadikan Allah sebagai tujuan utama kita lah.
Niat ini jugalah yang akan menjadi api dalam jiwa kita, untuk tetap bersemangat beraktivitas dan menjalani hidup. Sebagai api dan bahan bakar, niat tersebut yang akan menjadi pemantik semangat kita untuk tetap maju, Yang membuat kita ingat alasan utama kita bersusah payah.
Seperti api yang mudah tertiup angin, mungkin nanti bisa membesar dan mengecil, namun yang paling penting adalah menjaganya agar tetap menyala. Jika mati, perlu pemantik baru. Kalau misal mengecil, bisa dijaga dan ditambah sedikit minyak agar tetap hidup.
Tapi ya, niat aja tidak cukup. Kalau misal niat aja cukup untuk jadi baik, dijamin tidak akan ada orang melarat di dunia ini :).
Makanya, bagaimana menjalani hidup itu juga sama pentingnya.
Tentang "Jalanin Apa Adanya"
Dan kalau udah niat, tinggal jalanin kan? Andai menjalani proses hidup semudah itu. Apalagi buat dijalani apa-adanya...
Menjalani apa yang kita targetkan atau niatkan dengan sungguh-sungguh itu bukan hal mudah. Untuk konsisten melaksanakannya, terkadang kita harus memaksa diri dan bersungguh-sungguh.
Niat ninggalin rokok? mulai berhenti merokok.
Niat bisa umroh? mulai cicil tabungan.
Niat bisa nerbitin buku? mulai belajar nulis dan nulis buku.
Niat bisa tahajjud setiap hari? mulai belajar bangun malam konsisten.
Dan namanya proses, harus dijalani dengan sungguh-sungguh; mau itu untuk urusan dunia atau akhirat. Karena Rasulullah ﷺ bilang dalam salah satu hadis, agar kita bersungguh-sungguh dengan apa yang kita kerjakan. Dan juga tentang amalan yang konsisten walau sedikit itu lebih dicintai. Berproses ya, dengan sungguh-sungguh.
Dan namanya hidup, tentu harus seimbang; jangan terlalu kaku, tapi juga jangan terlalu leha-leha. Kadang ada kan, orang yang terlalu kaku sampai strict tidak mau kerjakan apapun di luar dari yang dibayar, atau menjalani hidup dan agama dengan kaku dan keras tanpa adaptasi dengan lingkungan sekitar. Atau kebalikannya, ada juga yang terlalu leha-leha hingga waktu banyak kebuang sia-sia untuk hal yang tak berfaedah. Dan ini juga pembeda "apa-adanya" dalam konteks motto ini dengan apa-adanya yang, yaa memang jalani malas-malasan saja.
Tapi ya ketika menjalaninya pasti ada kalanya mau menyerah pada keadaan. Mungkin ketika dijalani, rasanya sangat berat dan tidak meyakinkan. Seperti, "ini ujungnya tidak kelihatan, tapi capek iya", atau lingkungan sungguh tidak mendukung dengan perubahan kita, akhirnya ya walau sudah ada niat yang benar, udah mulai dicoba jalanin serius, ujungnya balik jadi autopilot. Terus akhirnya nyerah.
Dan itu manusiawi, menjalani kehidupan dengan naik-turunnya.
Namanya berproses dan menjalani hidup itu tidak seindah bayangannya. Proses tersebut berat, dan terkadang berkali-kali membuat kita ragu. Mungkin ada masanya kita ingin menyerah, mundur, dan istirahat. Sedih dengan kesulitan yang dihadapi tersebut, and it's okay. Memang hidup seperti itu. Kita bukan robot yang tidak memiliki emosi; pasti akan ada masanya naik-turun dalam hidup. Dan rasakanlah apa-adanya hal tersebut, tanpa filter dan dihadapi langsung.
Namanya manusia tentu tidak ingin kesulitan, ingin merasakan yang enak-enak saja. Namun sayangnya kita tinggal di dunia yang fana dan jauh dari kata sempurna; pasti kita akan merasakan sedih disamping senang, akan merasakan lelah disamping bersemangat, dan itulah bagian dari menjadi manusia.
Lagipula, bagaimana kita bisa tahu nikmatnya kesenangan dan gelora semangat, kalau kita tidak pernah merasakan kesedihan dan rasa putus asa? Bahkan kata Brene Brown dari risetnya pun, kita tidak bisa menutup emosi kita agar tidak sedih aja gitu; tidak bisa.
Aku dulu mencoba untuk cuek dan tidak terlalu berharap banyak, agar tidak kecewa dan sedih. Tapi setelah dijalani, di saat yang sama aku juga menutup diri dari perasaan bahagia saat meraih target yang aku harapkan tersebut. Seperti memakai baju zirah yang menjaga dari tebasan pedang, tetapi juga menjaga dari hangatnya pelukan.
Kalau kita menutup perasaan kita, kita juga menutup emosi kita untuk merasakan semuanya; termasuk kebahagiaan. Yang bisa kita lakukan, ya membuka hati dan menerima seluruh emosi tersebut apa-adanya.
Maka, nikmati semua rasa itu.
Habis kesandung, bangun.
Kalau capek, istirahat.
Gagal, renungkan pelajarannya.
Lagi sedih, silakan nangis.
Ketika pulih, jalanin lagi.
Pas bersemangat, terus maju.
Pas berhasil, rayakan.
Saat senang, syukuri rasa tersebut.
Jalani itu semua apa-adanya.
Bahkan Rasulullah ﷺ pun merasakan tangis dan sedih saat ditinggal istrinya tercinta Khadijah dan Pamannya. Saking sedihnya Rasulullah ﷺ saat itu, para sahabat yang melihatnya sampai ikutan menangis.
Jujur aja, ngomong itu gampang, terutama kalau kita seorang diri. Kalau menjalaninya dengan bergantung pada hal duniawi yang fana, yang juga bisa merasakan lelah, tentu akan cepat kecewa. Karena itu, jadikan Allah sebagai akar utama kita dalam menjalani itu semua.
Akarnya di Allah, Nilainya di Keberkahan
Menggantungkan pegangan hidup ke Allah, –Yang Maha Sempurna lagi Maha Penyayang–, tidak akan membuat kecewa. Karena Allah yang paling tahu yang terbaik untuk hamba-Nya, yang sudah menyiapkan rezeki kita hingga kita meninggal, dan yang tidak akan menyia-nyiakan amalan kita sekecil apapun itu. Jadi, kita akan tenang, dan hanya tinggal menjalani hidup saja semaksimal mungkin, karena tahu Allah akan selalu menopang kita.
Iman, serta keberkahan dari semua ini yang mestinya jadi patokan, bukan kuantitas. Kalau di dunia modern ini akan mudah kita menjadikan kuantitas –harta, waktu, produktivitas– sebagai patokan kebermanfaatan. Namun nyatanya, bagi Allah patokan tersebut dilihat dari keberkahannya. Kalau misal ditulis dalam rumus kasar sebagai bayangan:
keberkahan = Niat * Proses
Untuk mendapatkan keberkahan memang semua aspek itu diperhatikan baik-baik; niat yang tulus, proses yang jujur dan sungguh-sungguh, semuanya dihitung. Karena orang jarang ya merhatikan niatnya dengan teliti, dan fokusnya di proses dan hasilnya aja. Padahal keberkahan ini bentuknya banyak, seperti support dan ketenangan batin... Tidak bisa selalu dilihat dari bentuk fisik.
Jadi walau kita niat untuk sedekah dan meluangkan waktu, walau cuma seribu-duaribu, tapi niatnya tulus ikhlas karena Allah dan konsisten, insyaAllah itu berkah juga. Atau kita kerja sungguh-sungguh dan jujur, agar kerjaan kita bisa memberi manfaat untuk banyak orang dan uangnya bisa dipakai untuk menafkahi keluarga, ya itu semoga jadi berkah juga.
Jadi kalau dipersingkat, "Niat Dulu, Jalanin Apa Adanya", motto ini adalah do'a dan pengingat, untuk memerhatikan segala aspek dalam menjalani hidup; niat dalam hati, proses yang jujur, menikmati jatuh bangun, dan tetap berakar kepada Allah.
Sehingga harapannya, ini bisa jadi do'a dan pengingat; di saat kita kesulitan dan ingin menyerah, di saat kita merasa sendirian, di saat kita tidak bisa melihat ujung perjalanan kita, semoga ini bisa menjadi penguat yang kokoh dalam hati untuk tetap tidak berputus asa terhadap rahmat Allah, serta tidak menyerah dengan keadaan.