image-logo
Makin kita dewasa, makin kita sibuk. Banyak hubungan terputus karena waktu dan jarak. Bagaimana menjaga yang tersisa dan menyambung yang terputus?
post
/post/pemutus-kesepian/
Menjadi Pemutus Kesepian

Menjadi Pemutus Kesepian

hero-image-pemutus-kesepian

Foto dari Pixabay (Pexels)

Semakin dewasa, semakin tiap orang sibuk dengan urusannya masing-masing; Pekerjaan, keluarga, anak, diri sendiri.... dan tanpa disadari, waktu kita habis dengan kesibukan kita, seperti berjalan di roda hamster non stop.

Kemudian kita sadar, tidak ada yang menghubungi karena rindu; sebagian besar menghubungi karena butuh. Atau bahkan kita pun tidak melakukan hal tersebut? hanya fokus yang ada di depan kita? atau yang ada di sekitar kita? seperti keluarga dan rekan kerja?

Hidup seperti berkelana

Terkadang aku berpikir, kalau hidup itu seperti berkelana. Kita singgah di satu titik, bergaul dan berteman dengan orang-orang yang sama berada di titik tersebut. Kemudian, entah orang tersebut pergi atau kita yang pergi meninggalkan titik tersebut. Dan hubungan tersebut menjadi putus.

Tidak ada yang mengatakannya, tapi memang begitulah hidup.

Makin dewasa kita, makin sedikit waktu yang kita punya. Lebih karena kesibukan dan tanggung jawab yang bertambah. Di saat-saat seperti itu, kita mulai berfokus untuk meraih hal yang penting untuk kita....

... dan di saat yang sama, mulai mengurangi hal yang bukan prioritas. Salah satunya hubungan yang sudah tidak bermanfaat.

Lebih Banyak Hubungan yang Tak Kokoh

Terkadang, sesenang apapun kita dengan hubungan yang kita punya, realitanya lebih banyak hubungan yang terbangun karena kesamaan aktifitas dan tujuan bersama. Hal tersebut menjadi 'pengikat' kita, pengikat yang fana. Ketika kita meninggalkan lingkungan tersebut atau kesamaan tersebut hilang, lama-kelamaan terlupakan dan terputus; entah karena waktu, jarak, atau kesibukan.

Ini menjadi pengingat juga, Ketika kita meninggal, Berapa banyak manusia yang masih mengingat kita satu-dua minggu setelah kematian kita? Bukan hanya ingat sekilas, tetapi bahkan mendo'akan?

Ibnu ‘Abbas berkata,

وقد صارت عامة مؤاخاة الناس على أمر الدنيا، وذلك لا يجدي على أهله شيئا.

“...Sungguh, kebanyakan persahabatan seseorang itu hanya dilandaskan karena kepentingan dunia. Persahabatan seperti itu tidaklah bermanfaat bagi mereka.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir disebutkan dalam Kitab Tauhid Syaikh Muhammad At Tamimi)

Sosial media membuat hubungan terlihat mudah, effortless, dan pasif. Namun, Jika tidak terhubung via sosial media, berapa banyak yang akan menghubungi secara langsung/aktif?

Namun, jika ada orang pilihan yang tetap kita coba hubungi walau sudah berpisah, walau itu membutuhkan usaha lebih. Itu artinya, mereka adalah orang-orang spesial dalam hidup kita. Orang-orang yang kita pilih dengan sadar; bukan yang hanya ada karena kesamaan, melainkan hanya karena diri mereka sendiri. seperti keluarga atau sahabat karib.

Hubungan ada banyak jenisnya

Terkadang kita berpikir kalau hubungan manusia itu seperti sesuatu yang tetap. Nyatanya, hubungan manusia itu dinamis. Ibaratnya seperti menanam bunga; Ketika dalam kondisi bersama—bekerja, kuliah, dan lainnya, bunga tersebut akan mekar karena disiram dengan konsisten. Apalagi dengan teman dekat, lebih mekar lagi.

Namun, hubungan itu bisa naik-turun, tergantung interaksi kita. Tumbuhan yang sudah lama tidak disiram, lama-kelamaan akan layu. Jika setelah kita berpisah, atau ikatan tersebut tidak dipupuk, lama-kelamaan ikatan tersebut akan lepas. Makanya kan, banyak kenalan kerja setelah pindah, atau kuliah setelah kita lulus yang lost contact.

dan ini termasuk untuk teman dekat sekalipun yang kita pilih baik-baik. Kalau kita baru ketemu beberapa tahun kemudian, mungkin akan terasa asing ketika menyambung kembali.

Mungkin ada alasan lain, seperti perjalanan hidup yang sudah sangat berbeda; sehingga tidak ada kesamaan dan hal yang bisa menjadi penghubung. Waktu memang bisa mengubah seseorang. Memang ada hubungan yang cukup di masa tersebut saja; dan putus ya memang karena sudah bukan masanya saja.

Kalau misal menikmati dan senang dengan ikatan tersebut, pastikan untuk terus dijaga; tetap terhubung, Walau hanya satu-dua kali setahun, tapi ada usaha. Dan dalam hal ini, terkadang harus dari diri kita sendiri yang berinisiatif, Walau menakutkan.

Karena jadi pertanyaan sendiri, apakah memang masih bisa dikatakan sahabat kalau misal tidak ada usaha untuk terhubung selama bertahun-tahun setelah berpisah?

Menyambung dengan Aktif

Menyambung ini yang sulit. Terkadang kita ingin menjadi pihak yang menunggu saja, berharap akan ada yang menghubungi atau hanya memilih terhubung jika hubungan tersebut dua arah. Atau mungkin, ketika kita ingin mencoba yang menjadi penyambung, kita khawatir ini hanya hubungan satu arah, dan orang lain merasa terganggu dengan komunikasi kita. Akhirnya kita urung melakukannya.

Realitanya, hampir semua orang berpikiran sama seperti ini; terjebak dalam lingkaran setan tanpa mencoba memulai. Hingga akhirnya terjebak dengan rasa kesepian masing-masing.

Terkadang, solusinya hanya sesederhana melawan rasa khawatir tersebut dan memulai duluan. Melawan rasa takut yang dirasakan, dan kekhawatiran kalau hubungan tersebut hanya satu arah; hanya kita saja yang ingin. Kita takut akan respon orang lain, tetapi kita melupakan hati kita sendiri. Jika kita ingin terhubung, entah karena networking relasi, menyambung kabar dengan teman lama, atau hanya sekadar suka, maka lakukan saja.

Kita sendiri yang harus menjadi pemutus kesepian tersebut. Menjadi penyambung ikatan yang terputus tersebut.

Jujur saja, hal ini berat. Berat, karena kita menurunkan ego, menurunkan ekspektasi, dan memaklumi banyak hal. Kita bisa saja kecewa—terlebih jika usaha kita tak berbalas. Hanya saja, tidak akan ada yang memulai jika kita menunggu semuanya sempurna.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَيْسَ الْوَاصِلُ بِالْمُكَافِئِ وَلَكِنْ الْوَاصِلُ الَّذِي إِذَا قُطِعَتْ رَحِمُهُ وَصَلَهَا

“Orang yang menyambung silaturahmi itu, bukanlah yang menyambung hubungan yang sudah terjalin, akan tetapi orang yang menyambung silaturahmi ialah orang yang menjalin kembali hubungan kekerabatan yang sudah terputus“. [Muttafaqun ‘alaihi].

Dan hubungan itu, kalau kita ingin tetap terhubung, tidak harus menunggu dua arah. Kalau kita memang sayang dan ingin tetap terhubung, walau mungkin hanya satu arah, tetap hubungi. Patokannya ada pada perasaan kita, bukan respon orang lain.

Mungkin juga karena standar yang ada, seolah hubungan itu harus dua arah. padahal hubungan itu banyak jenisnya. Dan jika mengacu standar tersebut, akhirnya kita kecewa sendiri karena tidak sesuai ekspektasi; seperti harus bertemu seminggu sekali, atau selalu bareng kemana-mana, foto bareng dengan pakai baju kembaran, dan banyak ekspektasi lainnya.

Kita menjadikan standar orang-orang sebagai ekspektasi untuk diri kita sendiri, padahal kondisinya bisa jadi berbeda.

Kita melupakan, kalau memang sejatinya hubungan manusia yang bisa di-maintenance dalam satu waktu secara aktif terbatas; sama terbatasnya dengan waktu kita sendiri. Kalau kita mencoba menghubungi semua orang, yang ada waktu kita akan habis.

Namun yang terbaik adalah bersifat tengah-tengah; tidak terlalu ketat dalam ekspektasi yang kaku, namun juga tidak terlalu lepas tanpa penjagaan. Dan sebenarnya ini berlaku untuk semua hal dalam hidup, serta menyesuaikan dengan situasi dan kondisi.

Dan semuanya kembali lagi ke hati kita, untuk apa kita memilih untuk tetap terhubung; karena ekspektasi orang lain atau dari hati kita sendiri?

semoga kita senantiasa diberi petunjuk dan niat yang lurus.

Penulis: Zira Fariza