image-logo
Ada kalanya yang bisa kita lakukan hanya bersabar dengan prosesnya. Kita perlu secara berkala melakukan *recharge* pada fisik, psikis, dan terutama iman kita; karena itulah landasan utama dari kesabaran kita.
post
/post/recharge-diri/
Istirahat Sejenak di Tengah Ikhtiar

Istirahat Sejenak di Tengah Ikhtiar

Waktu Membaca: 4 Menit
hero-image-recharge-diri

Ketika merasa tersesat dan lelah atas usaha yang tidak terlihat ujungnya, terkadang keraguan muncul dalam hati terhadap usaha yang selama ini dilakukan. Sungguh mudah terdistraksi dengan kesibukan dan cobaan yang dirasakan.

Ini membuatku merenungi koneksiku dengan Allah saat ini, termasuk kualitas imanku. Karena umumnya, keraguan tersebut muncul seiring dengan iman yang menurun.

Apa yang aku cek?
kualitas shalat dan ibadahku,
Keikhlasanku atas takdir Allah untukku,
Tingkat kesabaran karena ingin segera mendapat balasan.

Ketiga hal tersebut sering menjadi penyebab kegundahan dan keraguanku. Padahal, Allah-lah yang sudah menjanjikan rezeki dan jalan keluar padaku. Mungkin, karena kesibukan shalatku jadi tidak khusyu' –mengerjakan hanya seadanyaa. Mungkin, karena lelah, aku mulai kesal terhadap kondisiku dan tidak ikhlas. Akibatnya, kesabaranku menipis dan bertanya-tanya, "kapan ini semua akan berakhir? kapan aku akan mendapat jalan keluar dari ini semua?"

Di saat seperti ini, yang aku lakukan adalah kembali recharge diriku sendiri; dari sisi ketakwaan, niat, maupun keikhlasanku.

Cara yang paling sederhana dengan memperbaiki kualitas shalatku; tidak hanya full shalat 5 waktu saja, tetapi juga memperbaiki kekhusyu'an dan bersegera shalat saat azan tiba. Kemudian, aku juga memperbaiki kualitas dan mengencangkan ibadah lain.

Selain itu, aku juga mengecek kondisi fisik maupun psikis diriku. Terkadang, hati sudah recharge, tetapi fisik dan psikisku dalam kondisi tidak optimal, yang membuat burnout. Jika ternyata lelah, aku juga mengistirahatkan diriku dengan refreshing ringan, seperti relaksasi, dan melakukan hobi.

Dan yang paling utama, aku juga melihat kondisi hatiku. Berkaca, apakah aku ikhlas dan ridho dengan ketentuan Allah?

Terkadang, aku sudah mencoba recharge dengan berbagai cara, tetapi hati masih terasa suntuk. Mungkin saat itu, aku sebenarnya tidak ridho dengan takdir yang Allah tetapkan untukku. Sehingga refreshing ini hanya menjadi pelarian sementara, namun tidak menyembuhkan akar masalah.

Hati ini sangat halus. Kita sering mengira bahwa mendapatkan yang kita harapkan dapat menjadi jalan keluar dari kesuntukan yang kita rasakan. Padahal, semuanya ini ketetapan Allah. Mungkin kita tidak suka, tetapi Allah Maha Tahu apa yang terbaik untuk kita. Dan jika kita ingat, apa-apa yang Allah takdirkan untuk kita adalah baik.

Mungkin sebenarnya yang kita butuhkan bukanlah keluhan atau pelarian, melainkan ridho terlebih dahulu atas keadaan saat ini, sembari terus berikhtiar.

Jadi, ketenangan hati bukan didapat dengan memperoleh apa yang kita inginkan, melainkan dengan ridho terlebih dahulu, baru kemudian segala sesuatunya akan menjadi lebih baik. Menerima bukanlah pasrah dengan kondisi saat ini dan diam saja, tetapi ikhlas dengan ketetapan Allah sembari mencari hikmah di dalamnya, sembari terus bersabar dan berusaha mencari jalan keluar dari permasalahan kita.

Bisa dengan mengubah pertanyaan sederhana, dari mengeluh dan diam saja menjadi menerima dan memikirkan, "Apa yang Allah harapkan dengan menempatkanku di kondisi ini?"

Sejujurnya, perjalanan dalam satu titik ke titik lain ini panjang. Ada kalanya yang bisa kita lakukan hanya bersabar dengan prosesnya. Kita perlu secara berkala melakukan recharge pada fisik, psikis, dan terutama iman kita; karena itulah landasan utama dari kesabaran kita.

Perjalanan itu tidak selamanya akan mudah, dan terkadang yang bisa kita lakukan hanyalah bersabar.

Dan dari itu semua, yang terpenting tetap bertawakkal kepada Allah, untuk tetap ikhtiar dan percaya pada-Nya. Seperti Sabda Rasulullah berikut:

لَوْ أَنَّكُمْ تَتَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ تَغْدُو خِمَاصاً وَتَرُوحُ بِطَاناً

”Seandainya kalian betul-betul bertawakkal pada Allah, sungguh Allah akan memberikan kalian rizki sebagaimana burung mendapatkan rizki. Burung tersebut pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali sore harinya dalam keadaan kenyang.”

HR. Ahmad (1/30), Dari Umar bin Al Khoththob radhiyallahu ‘anhu.

Walaupun masih belum dapat melihat hasilnya, percayalah kepada Allah, dan gantungkan harapan penuh pada-Nya. Ia tidak akan menyia-nyiakan setiap usaha yang kita lakukan, dan akan membalasnya dengan sebaik-baiknya balasan.

Seperti Kereta Jarak Jauh yang tetap melaju seperti jadwalnya –walau menempuh beratus-ratus kilometer–. Kereta tersebut tetap tekun berjalan, dan terkadang beristirahat sejenak di perhentian sementara. Walau begitu, kereta tersebut tetap menjalankan amanahnya dan memercayai bahwa perannya berarti; walau hanya untuk satu-dua penumpang. Allah Maha Melihat.


Akan mudah saja untuk mengatakan bahwa kita akan memperbaiki kualitas hidup kita saat semuanya sudah jadi lebih baik, tetapi keberkahan tidak dilihat dari banyaknya rezeki dan kestabilan dalam hidup; tetapi dengan hubungan kita kepada Allah, serta ketulusan dan keikhlasan hati kita. Walaupun hal tersebut tidak sesuai dengan keinginan kita. Allah Maha Tahu sedang kita tidak tahu.

Semoga ini bisa menjadi reminder, karena pada akhirnya hasil akhir itu di tangan Allah. Ialah yang memberi keberkahan dan rezeki untuk kita. Sehingga, bagaimanapun kondisi kita saat ini, kita tidak melupakan Allah karena kesibukan dan kegundahan yang kita rasakan. Tetap berusaha untuk bertawakkal padanya serta memperbaiki hubungan kita dengan-Nya, dengan melakukan hal-hal yang Ia ridhoi dalam segala urusan kita.

Penulis: Zira Fariza

Blog ini tempat aku menuangkan isi pikiran yang bermacam-macam, mulai dari agama, hidup, atau curhatan kegiatan sehari-harinya. Kenal Lebih Dalam