image-logo
Tiap-tiap kita akan menghadapi tantangan dalam hidup ini. Mungkin akan terlihat berat dan gelap. Walau begitu, jangan sekali-kali kita putus asa terhadap rahmat Allah, karena sungguh Rahmat Allah sangat besar.
post
/post/jangan-putus-asa-terhadap-rahmat-allah/
Jangan Putus Asa Terhadap Rahmat Allah

Jangan Putus Asa Terhadap Rahmat Allah

Waktu Membaca: 11 Menit

Dalam perjalanan, tidak ada jalan yang hanya lurus saja, akan ada masa naik-turunnya. Akan ada satu masa, ketika kita merasa penuh semangat dan bisa menghadapi tantangan tanpa kesulitan. Namun, ada juga masanya saat kita merasa lemah. Merasa kesulitan yang lebih besar dari biasanya terhadap hal-hal yang kita rasa sudah lalui dengan santai sebelumnya.

Sama seperti perjalanan yang hanya lurus-lurus saja, lika-liku tersebut juga bagian dari hidup bukan? Terkadang di atas, kadang di bawah. Sebuah kewajaran sebenarnya, namun kesulitan yang dihadapi adalah ketika kita berada di posisi bawah, setelah sebelumnya kita ada di atas.

Layaknya iman yang bisa naik-turun, kita pun perlu menerima hal ini. ini bagian dari perjalanan, bagian dari keseimbangan hidup. Walau mungkin berat. Terkadang rasa sedih dan negatif yang kita rasakan ini membuat mata kita tertutup, merasa semuanya tidak mungkin dilewati, dan merasa kalau ini sudah sampai batas kita. Namun, yang perlu kita ingat kembali adalah, Allah tidak membebani makhluk-nya di luar kemampuannya. Artinya, masa-masa ini pun insyaAllah bisa kita lewati.

Ada Alasan di balik ini semua

Keberhasilan, kegagalan, akhir, awal, niat memulai, semuanya dihubungkan oleh satu hal: takdir. Bagian dari rukun iman ke-6, untuk memercayai takdir. Walau terkadang, kita suka lupa soal hal ini entah karena kesenangan atau kesedihan yang kita rasakan.

Rukun iman yang ke-6, percaya pada qadha dan qadhar, artinya percaya jikalau Allah mengatur takdir tiap-tiap manusia. Dan dalam takdir ini, ada hal yang bisa kita ubah, ada yang tidak bisa kita ubah. Sebagai contoh, kita memiliki kebiasaan merokok. Kita masih bisa berkesempatan mengubah kebiasaan tersebut jika kita usahakan. Sedangkan untuk hal yang tidak bisa diubah, misalkan adalah kejadian eksternal yang di luar kendali kita, aka. Keberhasilan atau kegagalan kita. Walaupun misal ada yang bisa kita kendalikan, kedua jenis takdir ini sudah Allah ketahui bahkan sebelum bumi diciptakan.

Lantas kalau misal sudah diketahui semua, untuk apa kita berusaha lagi? Tugas kita sebagai manusia, hanyalah berusaha. Dan dengan usaha tersebut, insyaAllah akan dimudahkan oleh Allah meraih hasil yang diinginkan. Selama kita tidak berhenti berusaha. Dan dalam meraih hasil yang diinginkan tersebut, kita akan menemukan banyak naik dan turun, keberhasilan dan kegagalan. Dan keduanya bagian dari takdir.

Tentu kita tahu kalau Allah tidak akan menyakiti hamba-Nya. Jika kita memegang pikiran tersebut, kita akan sadari kalau hal yang kita kira menyakitkan atau kegagalan, sebenarnya bisa jadi adalah bentuk kasih sayang Allah kepada kita.

Jika kita renungi, akan kita dapati kalau misal keyakinan diri kita sendiri saja tidak cukup untuk membuktikan kekuatan niat kita. Seperti kisah seorang Muadzin di Mesir, Yang walau sudah beramal bertahun-tahun pun tetap saja akhirnya dengan mudah pindah ke agama nasrani hanya karena godaan wanita, dan meninggal dalam keadaan nasrani. Di sisi lain, ada juga seorang pembunuh, walau sudah membunuh hingga 100 orang, ada keinginan dalam hatinya untuk kembali ke Allah dan bertaubat atas perilakunya, dan di akhir Ia diampuni oleh Allah berkat perjalanan hijrah yang Ia tempuh.

Ibnu Qayyim menulis dalam Madarij Al-Salikin 1:299: “Salah seorang saleh pernah berkata. ‘seorang dapat berbuat dosa dan masuk surga justru karena dosa itu, atau dia mungkin melakukan ibadah dan masuk neraka justru karena ibadah itu’.

Mereka bertanya, ‘bagaimana bisa demikian?’

Dia berkata, ‘Mungkin seorang berbuat dosa dan terus memikirkannya, dan ketika dia berdiri, duduk, atau berjalan dia mengingat dosanya, sehingga dia merasa malu dan bertaubat serta mencari ampunan dan menyesalinya, sehingga itu akan menjadi sarana keselamatannya. Dan mungkin ada seseorang yang melakukan perbuatan baik dan terus memikirkannya, dan ketika dia berdiri, duduk, atau berjalan dia mengingatnya dan itu mengisi diriya dengan kekaguman dan kesombongan diri, sehingga itu menjadi penyebab azabnya. Dosa mungkin menjadi faktor yang menuntunnya untuk beribadah dan beramal baik dan untuk mengubah sikapnya agar takut kepada Allah dan rasa malu dan merasa terhina di hadapan-Nya, menundukkan kepala karena malu dan menangis penuh penyesalan, mencari ampunan Tuhannya. Ini lebih baik bagi seseorang daripada ibadah yang membuatnya merasa bangga, pamer, dan memandang rendah orang lain. Tidak diragukan lagi, dosa lebih baik di hadapan Allah dan lebih mungkin membawa keselamatan daripada orang yang membanggakan diri, memandang rendah orang lain, dan yang berpikir bahwa dia sedang beramal baik kepada Allah. Bahkan jika dia mengucapkan kata-kata yang menunjukkan sesuatu selain itu, Allah adalah Saksi atas apa yang ada di hatinya. Orang seperti itu mungkin merasa benci terhadap orang jika mereka tidak mengelu-elukan dirinya dan tidak merendahkan diri mereka di hadapannya. Jika dia memeriksa dirinya dengan jujur, dia akan melihatnya dengan jelas.’”

Terkadang, mungkin kejatuhan ini adalah cara Allah mengajak kita untuk kembali kepada-Nya. Walau mungkin menurut kita menyakitkan. Karena Allah tahu kalau tidak semua orang akan kembali kepadanya jika dalam ketaatan. Bahkan, Allah pun tahu kalau misal ada seseorang yang jika tetap di atas, akan termakan penyakit kesombongan dan ujub diri, hingga membuat dirinya justru jauh dari Allah dan berharap dielu-elukan manusia. Dan karena itu, bisa jadi ia membalikkan hatinya dan membuatnya jatuh. Agar Ia merenung, bertaubat, dan membersihkan hatinya.

Semua itu ada maknanya, ada sebabnya. Dan semua kejatuhan dan keberhasilan itu adalah takdir yang membangun diri kita, hingga kita bisa mencapai titik ini. Mungkin jika kita coba renungi sesaat, bagaimana kondisi diri kita saat ini? Ada di posisi apakah kita, apakah jatuh atau di atas? Lalu, coba renungi pengalaman kita, semua keberhasilan dan kejatuhan yang dialami, baik secara sengaja atau tidak. Pengalaman personal kita. Apakah kita bisa mencapai titik ini, kalau misal kita tidak mendapatkan pengalaman-pengalaman tersebut? Baik saat kita sedang sukses maupun sedih?

Dan pada akhirnya, ini semua kembali kepada niat awal kita: Apa tujuan akhir kita? Apa niat yang mendasari kita melakukan perjalanan bernama kehidupan ini? Dan pada sejatinya niat perubahan yang terbaik, adalah niat yang diluruskan untuk mendapat ridho Allah. Dan mungkin saja, walau niat awal kita mungkin bukan karena Allah, seluruh pengalaman hidup kita menuntun untuk mencapai titik ini; agar kita semata-mata kembali pada-Nya.

Bersama Kesulitan ada Dua Kemudahan

“Karena sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan.” (Q.S. Al-Insyirah, Ayat 5-6)

Kita sudah tahu kalau Allah itu Maha Adil, dan menciptakan keseimbangan dalam segala hal. Kemudian, kita juga tahu kalau misal Allah itu sangat luas rahmat-Nya, melebihi murka-Nya. Maka jika kita lihat dari sisi itu saja, kita akan tahu kalau Allah tidak akan membiarkan kita dalam kesulitan seorang diri. Bahkan, dalam ayat di atas, dikatakan bahwa bersama kesulitan ada kemudahan.

Allah katakan bersama, bukan setelah. Ia tidak membiarkan kita menghadapi ujian dan cobaan begitu saja tanpa ada bantuan yang pasti sudah Ia siapkan untuk kita. Bantuan agar kita bisa melewati kesulitan tersebut dengan mudah. Ia membuat ujian untuk menguji kita, yang sebenarnya ujian ini bisa jadi salah satu bentuk kasih sayangnya untuk kita. Tidak cukup di situ pun, Ia menyediakan bantuan bersamaan dengan ujian tersebut. Disinilah letak keadilan dan Rahmat Allah; semua yang Allah lakukan dan siapkan untuk kita itu baik.

Dan dua kemudahan, tidak akan mungkin dikalahkan oleh satu kesulitan. Dari sisi jumlah saja sudah kalah, apalagi dari sisi makna.

Coba kita renungkan, Kita tahu Allah Maha Penyayang, yang rahmat-Nya melebihi Murka-Nya. Ia sudah membuktikan ini dengan banyak hal, dengan banyaknya rizki yang patut kita syukuri. Kemudian Ia memberi kita cobaan yang memiliki tujuan baik untuk diri kita, yang walaupun sulit ketika dihadapi, namun ia selalu disertai dua kemudahan yang berada bersama dengannya. Dan kita selama ini tidak bersyukur dan mempertanyakan arti dari ujian yang kita hadapi, sedangkan kita terlalu putus asa untuk melihat bahwa ujian itu sebenarnya baik, dan selalu bersama dengan kemudahan.

Banyak yang mengira kalau misal pertolongan harus berupa bantuan dari eksternal, seperti orang yang menolong atau faktor kepemilikan yang kita punya. Namun dasarnya ketenangan hati itu juga bentuk pertolongan Allah, karena Allah-lah yang maha membolak-balikkan hati dan memberikan ketenangan. Walau kita memakai seluruh harta yang kita punya untuk membeli ketenangan jiwa, kita tidak akan bisa. Karena hanya Allah satu-satunya yang dapat memberikannya kepada kita. Dan Allah memberikan ketenangan tersebut untuk hamba-Nya yang bertaqwa.

Pada saat Nabi Musa ‘Alaihissalam dikejar oleh Fir’aun ke laut merah, Nabi Musa dan kaumnya terperangkap di pinggir laut merah. Di belakang pasukan fir’aun sudah mendekat, namun di depan hanya ada lautan luas sejauh mata memandang. Ketika Bani Israil diliputi kekhawatiran karena tidak melihat jalan keluar, Nabi Musa tetap tenang dan percaya kalau Allah akan memberinya jalan keluar. Dan kemudian, Allah memerintahkan nabi Musa untuk mengetuk tongkatnya, sehingga Laut Merah terbelah dan Mereka bisa terbebas dari pengejaran Fir’aun.

Kalau misal direnungi, sebenarnya banyak bantuan tidak disangka-sangka yang datang pada saat kita sudah berada di titik terendah keputusasaan. Ketika kita sudah hampir menyerah dan mundur, kita benar-benar berharap dan memohon kepada Allah dengan setulus-tulusnya permohonan, dengan do’a dan permintaan dengan merendahkan diri yang sangat, karena sadar kita tidak bisa apa-apa tanpa Allah. Lalu tidak ada angin tidak ada hujan, ada bantuan yang datang tiba-tiba, dengan momen yang sangat pas sekali dengan yang kita butuhkan.

Dan itu yang sebenarnya Allah harapkan dari kita, atas cobaan dan tantangan ini. Ia ingin kita kembali kepada-Nya. Kembali dengan seutuhnya kepada-Nya. Ketika kita masih merasa mampu, kita mungkin berdo’a pada-Nya, namun di saat yang sama hati kita masih merasa mampu menghadapi ujian yang menimpa kita seorang diri, dengan kemampuan kita sendiri. Pada saat itu, kita masih belum sepenuhnya bergantung kepada Allah, karena masih ada rasa mengandalkan diri kita sendiri. Hanya saat kita benar-benar bergantung penuh pada Allah-lah, bantuan tersebut datang.

Berdo’a di Sepertiga Malam Terakhir

Kita selalu bisa datang ke Allah untuk memohon pertolongan-Nya.

Kenyataannya, Allah sangat senang jika kita kembali kepada-Nya. Meminta tolong dan memohon pertolongannya. Ia sangat menyayangi makhluk-Nya melebihi ibu yang menyayangi anaknya. Kita tahu betapa besar kasih sayang seorang ibu serta usahanya agar anaknya bisa sukses, agar bisa menjadi lebih baik. Sungguh kasih sayang Allah lebih besar dari itu.

Berbeda dengan berharap kepada manusia, berkeluh kesah kepadanya. Ada kalanya, kita merasa ingin berkeluh kesah ke teman kita, namun seperti ada kesulitan tersendiri untuk melakukannya. Terkadang ketika kita sedang butuh-butuhnya teman untuk berkeluh kesah, kita dapati teman kita sedang sibuk dengan urusannya sendiri, atau mereka juga ditimpa masalah mereka sendiri, atau yang paling mungkin, mereka tidak ada waktu untuk kita. Seperti kata imam syafi’i dalam syairnya: Seorang teman tak bisa diharapkan dalam setiap masa, demikian pula saudara, kecuali untuk hiburan. Bahkan teman sejatipun yang akan datang ketika duka, belum tentu akan ada waktunya untuk kita.

Berbeda dengan Allah, Ia siap mendengarkan kita kapanpun, dimanapun. Jika kita membutuhkannya, kita tinggal mengadahkan tangan untuk berdo’a dan memohon bantuan-Nya. Meminta pertolongan-Nya saat kita benar-benar membutuhkannya. Dan waktu paling maqbul untuk berdo’a, adalah di sepertiga malam terakhir.

Di sepertiga malam terakhir, kita bisa memohon apapun kepada Allah, meminta ampun, berkeluh kesah dengan bebas, dan pasti Allah dengar. Allah terima. Kita bisa dengan bebas meneteskan air mata kita sembari memohon tanpa khawatir malu akan pandangan orang. Karena kita memohon kepada pencipta kita sendiri, yang memang mengharapkan do’a dan permohonan kita.

Mohonlah kemudahan kepada Allah agar bisa melewati masa-masa rendah ini dengan lancar, dan ingatlah kalau this, too, shall pass.

Yang Pasti, Jangan Menyerah

Tidak apa-apa jika kau merasa sedih dan ingin menangis, tidak apa-apa jika kau merasa ingin berhenti karena tiap-tiap sakit yang kau rasakan, Tanamkan ini di dalam jiwamu, bahwa Allah bersamamu, dan ujian ini akan berlalu. Tidak apa-apa jika kau ingin berhenti sejenak, namun jangan sampai kau mundur; tetaplah maju walau sedikit demi sedikit. Tetaplah sabar dan kuat untuk menghadapi rintangan tersebut. Terimalah, karena itu bagian dari perjalanan. Hanya satu: Jangan menyerah.

Janganlah kau menyerah, karena Allah selalu bersamamu. Ia tidak akan menyia-nyiakan usahamu. Bahkan rasa sakitmu tersebut, akan berbuah pahala. Seperti yang disebutkan dalam hadist berikut:

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Tidaklah seorang muslim itu ditimpa musibah baik berupa rasa lelah, rasa sakit, rasa khawatir, rasa sedih, gangguan atau rasa gelisah sampaipun duri yang melukainya melainkan dengannya Allah akan mengampuni dosa-dosanya” (HR. Al-Bukhari, no. 5641 dan Muslim, no. 2573)

Lihatlah, betapa sayangnya Allah dengan kita. Tidak hanya bersedia menolong setiap saat, membantu kita saat dibutuhkan, dan bahkan, rasa sakit dari perjalanan ini pun bisa menjadi penggugur dosa kita. Di balik tiap tetes darah dari luka dan tetes keringat keletihan yang kita alami, tiap detik kesedihan dan bermasa-masa keterpurukan yang kita rasakan, semua itu menjadi penggugur dosa kita. Tiap air mata kita… yang kita teteskan saat mengeluh sedih kepada Allah, mengeluarkan dosa-dosa kita.

Karena itu, janganlah menyerah, dan mintalah pertolongan pada Rabb-Mu. Dan semoga, ketika kau tetap bersabar dan menjalani ini semua, kau dapat melewati rintangan tersebut dengan jiwamu yang sudah bersih.

Penulis: Zira Fariza

Blog ini tempat aku menuangkan isi pikiran yang bermacam-macam, mulai dari agama, hidup, atau curhatan kegiatan sehari-harinya. Kenal Lebih Dalam