image-logo
Membahas tentang berharap, terutama berharap ke manusia
post
/post/berharap-ke-manusia/
Berharap Pada Manusia

Berharap Pada Manusia

Waktu Membaca: 4 Menit

“Aku telah pernah mencicipi semua kepahitan dalam hidup dan yang paling pahit adalah berharap kepada manusia.” (Ali bin Abi Thalib)

Jujur kutipan tersebut bisa dikatakan kutipan populer yang sering kulihat saat seseorang merasakan kekecewaan terhadap orang lain. Biasanya terjadi entah ke pacar, teman, atau lainnya.

Ada satu lagi hadist yang mirip dengan itu:

“Cintailah orang yang engkau cintai seperlunya, karena bisa saja suatu hari dia akan menjadi musuhmu, dan bencilah orang yang kamu benci seperlunya, karena bisa jadi suatu hari kelak dia akan menjadi orang yang engkau cintai.” (HR: Al-Tirmidzi)

Ketika kita terlalu mencintai atau membenci seseorang, Pandangan kita akan dipenuhi bias. Bias ini yang membuat pandangan kita tentang orang tersebut menjadi berat sebelah. Ketika bias tersebut terbuka, dan kita melihat orang tersebut apa-adanya, kita mungkin sangat kecewa atas kekurangan orang yang awalnya kita cintai, atau malu karena terlalu membenci mereka karena kebaikan yang mereka miliki.

Sejatinya, manusia itu memiliki amal baik, namun tidak lepas dari dosa dan kesalahan. Namun, bias tersebut menutupi kenyataan tersebut. Kita hanya melihat dari satu sisi yang sesuai dengan perasaan kita dan mengabaikan lainnya. Baru ketika tabir tersebut terbuka, kita kaget dan berlaku seperti itu.

Bagaimana kalau sifat buruknya memang parah? atau memang dia orang yang baik banget? Perlu diingat juga kalau orang itu bisa berubah. Bisa jadi, yang awalnya kita benci karena keburukannya, ternyata menjadi orang baik. atau orang yang kita kira baik, ternyata berbalik melakukan kejahatan.

Bukannya itu juga yang banyak terjadi pada sahabat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam? Banyak dari mereka yang awalnya kafir, memerangi Beliau, lalu menjadi Sahabat nabi yang berjuang bersama menyebar islam. Dan Allah menumbuhkan rasa cinta dalam hati mereka, walau mungkin sebelumnya mereka memusuhi satu sama lain.

Kuncinya adalah Berlaku Adil

Kemudian, lucunya, kekecewaan dan rasa malu tersebut membuat kita tetap bertindak dengan ekstrem, tapi sekarang di spektrum sebaliknya.

yang awalnya benci banget, jadi suka banget.

Yang awalnya suka banget, jadi benci banget.

Kita tidak lepas dari sifat berlebihan. Inilah yang salah.

Kuncinya sederhana sih: berlaku adil. Belajar melihat orang lain dengan apa-adanya, tanpa ditutupi filter-filter yang tercipta dari perasaan atau pikiran kita. Kita tidak melihat dengan adil, dan berlaku adil ke mereka.

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.” (QS. An-Nahl: 90)

Kuncinya adalah melihat sifatnya. Bencilah perbuatan salahnya, dan cintailah perbuatan baiknya. Pada dasarnya perbuatan yang mereka lakukan bisa berubah, begitupula perasaan kita.

Ketika kita dapat berlaku adil, kita dapat memiliki hubungan yang lebih sehat dengan orang lain.

Berlaku Sewajarnya dan Hanya Berharap Lebih ke Allah

Yang kita harus ingat, manusia itu tidak sempurna. Lupakan soal orang lain, diri kita sendiri tentu pernah khilaf bukan? Dan kalau kita berharap terlalu berlebihan kepada makhluk yang tidak sempurna tersebut, yang ada kita akan dipenuhi rasa kecewa.

Imam Syafi'i berkata:

“Ketika kamu berlebihan berharap pada seseorang, maka Allah akan timpakan padamu pedihnya impian-harapan kosong. Allah tak suka bila ada yang berharap pada selain Dzat-Nya, Allah membatasi cita-citanya agar beliau kembali berharap hanya terhadap Allah SWT.”

Mungkin ketika kita terlalu mencintai seseorang, hati kita penuh pikir dan harap tentang orang tersebut. Akhirnya, Allah cemburu karena proporsi-Nya di hati kita lebih sedikit dibandingkan orang tersebut, seolah kita menyekutukan Allah tanpa disadari. Alhasil, Allah membalikkan hati kita tersebut, sehingga disingkaplah bias kita tersebut, sebagai pengingat.

Karena Allah paling benci kalau ada yang menyekutukan-Nya.

Bukan berarti kita tidak boleh berharap atau minta tolong ke manusia, bukan. Hanya saja, berlakulah sewajarnya dan jangan berlebihan. Berlebihan ini adalah hal yang membuat hancur diri kita.

Penulis: Zira Fariza

Blog ini tempat aku menuangkan isi pikiran yang bermacam-macam, mulai dari agama, hidup, atau curhatan kegiatan sehari-harinya. Kenal Lebih Dalam