Ketika belajar suatu hal baru, biasanya kita belajar dengan mempraktikkannya langsung, atau mempelajari dulu ilmunya. Umum ditanyakan, apakah lebih baik praktik atau teori?
Di satu sisi, Teori bagus untuk memahami konsep dasar dari pengetahuan yang ingin kita pelajari. Namun, terlalu menumpuk teori tanpa mempraktikkannya bisa membuat kita bingung. Karena kita hanya paham teorinya saja; ada kesenjangan antara yang kita pahami dengan lingkungan sekitar. Ini seperti menanam pohon namun tidak memakan buahnya.
Di sisi lain, mempraktikkan ilmu yang dimiliki akan lebih berasa untuk kita. Terkadang logika itu juga yang membuat orang-orang lebih memilih untuk mempraktikkan langsung tanpa belajar. Namun, ini berimbas ke kevalidan ilmu yang kita miliki karena kita hanya belajar dari pengalaman. Terkadang ini berbahaya, seperti mengarungi gurun pasir tanpa peta.
Baik belajar teori maupun praktik, keduanya menghasilkan wawasan dan kebijaksanaan. Keduanya saling berkaitan, dan keduanya sama-sama penting, dan harus seimbang antara keduanya.
Dengan mempelajari teori, kita menjadi tahu apa yang benar dan apa yang salah. Ketika dipraktikkan, pemahaman kita terhadap ilmu tersebut makin matang, malah menambah wawasan baru atas ilmu tersebut yang tidak kita temukan di buku. Dari situ juga kita menemukan arah untuk apa yang perlu kita pelajari lagi selanjutnya. Dan terus begitu siklusnya.
Bicara soal arah yang benar, untuk tahu apakah praktik yang kita lakukan sesuai, kita mengacu ke teori. Namun, tahu dari mana kita teori yang kita pilih benar? Karena di zaman serba terhubung seperti sekarang, mudah untuk mendapat informasi yang bertolak belakang dan keduanya dibenarkan.
Seperti misal kopi. Ada yang bilang kalau kopi itu bagus, namun ada juga yang bilang tidak sehat karena kafeinnya berbahaya untuk pikiran kita. Sebagai orang awam kita tentu bertanya-tanya, mana yang benar?
Dari situ, penting untuk mengikuti ahlinya. Bukan hanya sekedar kata-kata orang atau dari pengalaman, tetapi juga lihat sumbernya. Contoh soal kopi diatas. Bukan rahasia kalau banyak jurnal penelitian yang mengatakan efek positif kopi berasal dari produsen kopi, dan yang negatif dari ahli kesehatan. Jika dimisalkan begini, akan terlihat bukan mana yang lebih relevan?
Kata suatu ulama, Jika kita ingin belajar soal islam, maka kita harus membaca ilmu-ilmu yang ditulis orang islam itu sendiri, bukan orang atheist, kristen, atau lainnya. Karena mereka memiliki pengetahuan soal itu. Singkatnya, kalau mau cari ilmu, belajar dari ahlinya.
Sekilas disitu jelas ya, namun ada satu hal lagi: Membenarkan dan menyalahkan.
Tidak sedikit orang yang sudah belajar dari ahlinya, belajar dengan sumber yang benar, namun praktiknya kaku. Kaku disini, adalah menjiplak apa adanya, tanpa menyesuaikan dengan keadaan.
Sebagai contoh, fenomena yang sekarang sayangnya banyak terjadi, adalah menyalahkan sesama umat muslim lain yang tidak sesuai dengan cara kaku mereka. Mereka melihat selain mereka salah hanya dari sisi luar saja, padahal yang membedakan antara umat islam satu dengan lainnya di mata Allah, adalah ketakwaannya, bukan pakaiannya.
Ilmunya sendiri tidak salah, namun praktiknya kurang tepat. Tidak semua orang memiliki akses pengetahuan yang luas. Mestinya kita menyesuaikan praktiknya dengan menasihati dengan lembut, bukan kekerasan. Batu bisa bolong jika diteteskan air terus-terusan. Kalau misal kita berlaku keras, maka orang pun akan menjauh. Akhirnya, bukannya orang lain bahagia karena mendapat petunjuk yang benar, alhasil mereka makin menjauh karena kekerasan kita.
Dan imbasnya siapa yang kena? Ilmu yang benar dicap buruk.
Rasulullah mendakwahkan islam dengan lemah lembut dan sabar, dan Maulana Malik Ibrahim ketika mendakwahkan Islam ke tanah jawa pun (yang mayoritas buddha pada saat itu) tidak banyak mendikte menyalahkan, tetapi berbaur dan mendakwahkan dengan lemah lembut. Jikalau Islam disebarkan dengan kasar, tentu banyak yang akan jadi phobia.
Ini sebenarnya panjang kalau dijelaskan, tetapi sepertinya sudah cukup untuk menggambarkan pentingnya keseimbangan antara teori dan praktik. Terutama mengingat pentingnya hal ini di zaman serba terhubung seperti sekarang, di zaman dimana ilmu dari masyarakat dengan kultur dan nilai yang sangat berbeda dengan Indonesia atau Umat Islam di Indonesia bisa mudah masuk.
Yang paling utama, luruskan niat kita untuk mencari ilmu. Pastikan niat kita benar, karena itu yang mengarahkan semuanya.
Semoga kita dimudahkan untuk menambah ilmu kita, dan mempraktikkannya dengan baik dan lemah-lembut sehingga manfaatnya makin menyebar luas.