Waktu baca buku "Hijrah jangan jauh-jauh", ada poin menarik soal orang yang mendakwahkan ibu-ibu di kampung mba kalis (penulis buku tersebut) karena memakai kerudung kurang rapih. Tapi pas ibu-ibu tersebut mau beli kerudung yang 'rapih' di toko pendakwah tersebut, harganya terlalu mahal untuk si ibu itu, yang membuat ia batal beli.
Ada lagi soal kisah mba kalis yang menceramahi bapaknya -yang merupakan imam di kampungnya, soal palestina. Dan saat menjelaskan soal isu palestina tersebut, betapa beliau menyesal meremehkan amal sederhana bapaknya karena merasa dakwah islam yang ia pelajari di kota lebih maju dan terdidik.
Itu poinnya: "Maju dan Terdidik".
Somehow, mungkin karena melihat seolah di kota lebih maju atau terdidik, anak muda -dan mungkin bahkan orang tua, banyak yang tidak melihat realita hidup kalau misal banyak banget yang sejatinya tidak punya kesempatan seperti mereka. Entah karena finansial, sekedar tidak tahu, atau hanya berusaha hidup sederhana nan bersahaja.
Anak-anak muda kelebihan semangat itu hanya fokus dengan diri mereka, dan masih melihat dengan hitam-putih segala permasalahan di lapangan dengan banyaknya pengetahuan dan teori yang mereka punya. Namun, mereka kurang melihat realita kalau tidak semua orang seperti mereka; banyak hal dalam hidup itu yang penuh dengan ranah abu-abu.
Pandangan mereka yang seolah sudut pandang mereka saja yang benar, dan mereka yang lebih tahu dari orang-orang yang kurang paham tersebut. Pengetahuan yang mestinya dimanfaatkan agar lebih bersyukur dan membuat kita bisa memanfaatkannya dengan baik, menjadi api yang menyalakan ego kita sendiri.
Ironisnya, Bukannya mengamalkan dan membagikan kelebihan ilmu tersebut untuk mereka yang tidak tahu, ada juga yang justru menyalahkan kaum-kaum 'tak berpendidikan' tersebut karena hidup mereka yang kurang baik.
Saat artikel ini ditulis, sedang tren hashtag #kaburAjaDulu. Ini dibuat oleh anak-anak muda (kebanyakan tech and creative worker) yang resah karena keadaan indonesia dengan pemerintah baru sedang kacau. Intinya, mereka mau "kabur" ke luar negeri, demi membangun finansial yang baik. Tujuan kaburnya ya itu kembali ke pihak masing-masing sebenarnya. Hanya menyayangkan saling salah-menyalahkannya saja sih.
Ketika dengan entengnya mereka memamerkan kesuksesan mereka setelah 'kabur' atau malah dengan mudahnya keluar begitu saja menyelamatkan diri mereka, banyak orang-orang di balik layar yang hanya bisa menggigit jari melihat flexing mereka karena boro-boro mau kabur, bisa menabung untuk kebutuhan harian saja sudah syukur.
Ada satu post yang pernah kubaca -ironisnya, justru menyalahkan "orang-orang tak terdidik" yang membuat pilihan presiden yang salah, yang membuat kehidupan orang-orang terdidik ini terkena dampaknya. Ironis, karena padahal justru "orang-orang tak terdidik" ini yang sebenarnya lebih kena dampak keuangannya daripada mereka-mereka yang mengeluh ini.
Dan saat mereka mengeluh di balik layar, masyarakat awam tersebut tetap menjalani hidup mereka seperti biasa, tanpa tahu apa-apa. Mereka tetap hidup dengan tersenyum dan sejahtera dengan keseharian mereka yang terlihat sederhana. Yang lebih ironisnya lagi, jumlah orang-orang yang berteriak ingin kabur dan mengeluh tersebut jauh lebih sedikit dari orang-orang biasa yang menjalani kehidupan secara cuek ini. Yah memang loud minority menutupi silent majority sih.
Padahal realitanya, di luar negeri (atau mungkin negara maju jika ingin blak2an), tidak seindah yang ditampilkan di media. Setiap hal dalam hidup ada positif dan negatifnya; menampilkan satu sisi hanya membuat bias saja. Dan itupun sama dengan kondisi Indonesia saat ini. Di negara-negara maju tersebut, mereka sudah ratusan tahun lebih fokus untuk pembangunan negaranya, sedangkan Indonesia baru merdeka 80 tahun; itupun setengah abad awalnya masih belum stabil dengan perang dan rezim orde baru. Jadi baru sekitar 30 tahunan indonesia stabil menuju pembangunan. Sebelum-sebelumnya, Indonesia dijajah 350 tahun, sedangkan penjajah tersebut dengan entengnya mengeksploitasi negara jajahannya untuk membangun negeri mereka sendiri.
Somehow, ironi terbesar dari semua ini adalah, sebagian besar negara berkembang yang bermasalah tersebut, masih berkembang karena kolonialisasi jangka panjang oleh negara maju tersebut. Dan negara maju tersebut memanen untung dari ekspoitasi tersebut, dan memberikan masalah jangka panjang terhadap negara berkembang tersebut hingga hari ini. Ini sudah beda pembahasan, tapi yang ingin aku tekankan adalah, Indonesia masih jauh lebih baik keadaannya saat ini dibandingkan negara jajahan lain.
Pada Akhirnya Hidup ya Ngalir-Ngalir Aja
Melihat orang-orang berlalu-lalang tersebut, menjalani hidupnya masing-masing, aku jadi sadar satu hal: Kalau semua ini sudah diatur sama Allah. Naik-turun ekonomi, menang-kalah negara, penguasa dan yang ditindas, takdir yang membawa tiap orang ke suatu tempat, pertemuan, dan agama.
Keadaan saat ini hanyalah salah satu fase hidup dari fase-fase lainnya.
Hanya beberapa peristiwa tertentu dalam sejarah yang mengakibatkan efek besar, namun orang di bawahnya hanya ikut saja tanpa paham konteks di dalamnya. Pemerintah memang membuat aturan yang terlihat menyengsarakan, tapi orang2 di bawahnya ya cuma hidup-hidup dan manut-manut aja. Sama juga dengan yang negaranya kacau. Sedikit orang yang berpikir...
Dan dari sini, betapa Maha Besarnya Allah mengatur ini semua. Dulu aku berpikir soal individu saja atas ke-Maha Kuasa-an Allah, tapi memikirkan seluruh koneksi ini, seluruh takdir dan kondisi manusia dan dunia, membuatku takjub. Ia mengatur semuanya sesuai takaran-Nya, walau mungkin di mata kita terlihat buruk saat ini. Tapi hidup memang silih berganti antara baik dan buruk bukan?
Dan betapa sebenarnya orang-orang hanya menjalani hidup saja, dan Allah sudah menyiapkan dan mengatur rahmat-Nya untuk mereka semua, baik mereka mengetahui keadaan di negara ini atau hanya hidup agar bisa hidup saja.
Dan... betapa kecilnya aku sebagai manusia, yang pada akhirnya hanya bagaikan semut dalam roda kehidupan ini. dan Tak bisa apa-apa tanpa bantuan-Nya. Bahkan menolong sesama semut pun aku takkan bisa tanpa izin Allah.
Realita Tidak Hanya yang Ada di balik Berita Saja
"T.... tapi indo doomed kan?" Wrong. We should optimist.
Ingat kalimatku sebelumnya? "Loud minoriy and silent majority". Banyak juga orang-orang yang mereka tidak bicara atau mengeluh, tetapi mereka kontribusi memperbaiki keadaan juga. Buat pembangunan di daerah terpencil, meningkatkan agribisnis indonesia, atau para ASN yang kerja benar-benar demi bangsa dan negara secara jujur. Mereka banyaknya diam saja, tetapi di balik layar tetap berkontribusi membangun Indonesia yang lebih baik. Hanya tertutup aja dengan yang jelek-jelek berisik.
Walau tidak terlihat orang-orang, Allah tetap lihat usaha mereka. dan Itu tidak akan sia-sia.
Dan ini juga Bagian dari keseimbangan dalam hidup; untuk melihat hidup dari sisi yang kita tahu dan yang kita tidak tahu. Terkadang kita merasa pesimis dan menutup mata, hanya karena mencoba interpretasi kesulitan yg dialami dengan sudut pandang kita sendiri. Seperti contoh inflasi dan orang desa di atas.
Jika terlihat penuh dengan hal positif, ketahuilah di baliknya pasti ada minusnya juga. Dan di balik hal yang kita selalu jelek-jelekkan karena negatifnya, sebenarnya ada positifnya juga tentunya. Dan sayangnya, itu baru akan terlihat semua kalau kita sudah melihat realita secara langsung dari kedua sisi, karena gambaran yang ada di Internet adalah hal yang penuh bias. Perlu seimbang membandingkannya, dan melihat dengan kacamata jangka panjang karena bias jangka pendek itu menyilaukan.
Menuju Masa Depan yang lebih Optimis
Melihat pemberitaan dan informasi yang ada sekarang, jujur memang bikin pesimis dan khawatir sih. Satu positif yang didapat dengan tidak punya medsos ya itu, meminimalisir informasi-informasi bias seperti ini, Jadi bisa saring dan pilah informasi yg lebih positif. apalagi dengan media-media di Internet itu seringnya menampilkan bias berlebihan di satu sisi saja; Kalau bukan Jelek banget, ya bagus banget. Tidak ada tengah-tengahnya.
Istilah "ignorance is blessing" sebenarnya masuk ya, karena orang-orang yang tidak tahu apa-apa, walau dari luar keadaan mereka kurang mumpuni, masih hidup dengan santai dan bahagia aja. Mereka tidak capek melihat dan membandingkan kehidupan mereka dengan gemerlap kemewahan yang ada di layar gadget mereka. Sedang kita, bukannya bersyukur dengan banyaknya rezeki yang kita dapatkan, malah merasa pesimis dengan masa depan karena termakan pemberitaan negatif dan pamer orang-orang yang dari layar berhidup mewah nan bersahaja.
Walau kita tidak semestinya mengabaikan perasaan negatif kita tersebut (yang mestinya diterima sebagai bagian dari diri kita), tapi kalau misal terlalu hanyut dalam negativitas tersebut, kita bisa depresi. Seperti perut dan tubuh kita, yang tiap hari dikasih makan racun terus-terusan.
Mungkin kita perlu belajar untuk meliat kehidupan dengan lebih terbuka dan dekat; melepas mata kita dari tampilan gadget dan bias pikiran kita. Agar kita tahu kalau ada loh orang yang masih bisa bersyukur dengan kekurangannya, dan agar kita bisa lebih bersyukur juga.
Jadi, sana #NapakTanahDulu. biar ga pesimis-pesimis amat sama hidup.